Posted by: nursafri | April 28, 2008

Dominasi Kata Warga

Qaris Tajudin
# Wartawan Tempo

Entah kenapa, kata warga kini digunakan secara membabi-buta. Setiap kali ingin mengatakan orang banyak, ada kecenderungan pers—terutama televisi—menggunakan kata warga tanpa ada perlunya. Misalnya, ketika banjir menerjang pesisir utara Jawa Timur, hampir semua berita di televisi memakai kalimat seperti ini: ”Selain menggenangi ribuan rumah warga, banjir juga merusak ratusan hektar lahan pertanian milik warga.”

Tanpa kata warga, kalimat itu tetap dimengerti, bahkan jauh lebih efisien. Penggunaan kata warga pada kalimat itu, selain mubazir, juga menganggap pembaca atau penonton sebagai orang bodoh, tak tahu bahwa rumah dan sawah itu milik warga. Kalau bukan milik warga, milik siapa? Toh, kita tidak pernah berkata, ”Banjir merusak puluhan kilometer jalan milik negara.”

Selain itu, setiap kali memberikan status pada seorang anggota masyarakat biasa, kata warga selalu menjadi pilihan. Misalnya, soal perampokan, wartawan cenderung menulis begini: ”Menurut seorang warga, perampokan terjadi pada pukul 01.00 dini hari.” Padahal, memakai kata saksi mata atau hal lain yang lebih spesifik akan terdengar lebih tepat dan menambah nilai berita.

Penggunaan kata warga yang berlebihan itu bukan karena kita tidak memiliki alternatif. Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang mirip, antara lain penduduk dan masyarakat. Masing-masing kata tersebut memang memiliki arti yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, warga adalah anggota keluarga atau perkumpulan, masyarakat adalah sejumlah manusia yang terikat oleh suatu kesamaan, sedangkan penduduk adalah orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat.

Demam penggunaan kata warga ini mewabah setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Di majalah Tempo terbitan 1971 hingga 1994, kata warga tidak dibiarkan sendiri, selalu disandingkan dengan kata lain, misalnya warga kota, warga desa, warga ABRI, warga kompleks. Pemakaian kata warga yang diikuti dengan kelompok atau tempat tertentu memang lebih sesuai dengan arti kata warga menurut KBBI.

Ini berbeda dengan pemakaian kata warga di Tempo Interaktif (dipakai lebih dari 200 ribu kali). Kata warga kerap dibiarkan berdiri sendiri, hingga artinya bukan lagi anggota sebuah komunitas, tetapi berarti sekelompok orang. Misalnya judul berita: ”Warga Kuasai Kantor BPN Balikpapan”, ”Warga Nekat Hendak Menerobos Terowongan”, ”Hade Berharap Warga Tak Terdaftar Bisa Mencoblos”, dan ”Aparat Paksa Warga Menuju Pengungsian”. Pada kalimat tersebut, kata warga menjadi gerombolan ”hantu”, sekelompok orang tanpa identitas yang jelas. Padahal, dengan mengganti kata warga dengan demonstran, korban bencana, calon pemilih, judul di atas akan lebih hidup.

Dominasi kata warga yang luar biasa ini karena kita sudah jarang memakai kata yang lain yang bisa berarti sama seperti masyarakat dan penduduk. Ketiga kata itu dapat dipakai secara bergantian, disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Dalam kata masyarakat—dari kata Arab musyarakat yang berarti berserikat—terdapat makna kebersamaan dan persekutuan. Berbeda dengan rakyat—dari kata Arab ra’yat yang berarti gembalaan—yang cenderung bermakna adanya hubungan vertikal, antara yang dipimpin dan yang memimpin.

Kata penduduk punya cerita berbeda. Meski diambil dari kata dasar duduk, kita tidak pernah memakai kata dasar itu untuk arti yang sama. Penduduk berarti orang yang mendiami suatu tempat, tapi tidak pernah memakai kata duduk sebagai kata kerja untuk mendiami suatu tempat. Saya pernah berdebat dengan teman dari Malaysia tentang hal ini. Di awal pertemuan dia bertanya: ”Duduk di mana?” Saya berpikir, orang ini pasti gila, karena sudah jelas saya duduk di hadapannya. Tapi ternyata yang dia maksud adalah di mana saya bertempat tinggal.

Tapi teman saya itu menolak menggunakan kata tinggal untuk arti mendiami. ”Artinya bertolak belakang. Tinggal itu tidak tetap di suatu tempat. Leave dalam bahasa Inggris, bukan live,” katanya. Saya menjawab, ”Kalau kata yang berarti leave, kami menambah akhiran kan, menjadi meninggalkan.”

Dia bertanya lagi, ”Lalu bagaimana dengan meninggal dunia? Kenapa tidak meninggalkan dunia?” Perdebatan bisa lebih panjang, tapi saya memilih untuk tidak meneruskannya. Saya yakin, di sini yang terjadi adalah soal kelaziman, bukan logika.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: