Posted by: nursafri | May 5, 2008

Hemat Energi

Minggu, 04 Mei 2008
Cari angin

Hemat Energi

# Putu Setia

Setelah satu jam meninggalkan rumah, saya baru ingat belum mematikan lampu di kamar. Itu pun karena radio di mobil menayangkan iklan dari Perusahaan Listrik Negara agar mematikan lampu minimum 50 watt untuk penghematan nasional. Saya menelepon anak saya agar mematikan lampu itu.

“Sekarang Bapak telepon Bupati, itu lampu di halaman kantornya masih menyala,” kata istri saya. Mobil sampai di alun-alun kota yang sudutnya berubah jadi taman. “Telepon lagi Kepala Dinas Pertamanan, bilang banyak lampu masih hidup,” istri saya terus mengoceh. Saya tahu, perintah istri saya bernada sinis, karena itu saya diam saja. Mobil terus melaju.

“Lo, belanja ke mana?” tanya istri saya. “Katanya ke Carrefour, supaya lebih nikmat, barangnya segar,” jawab saya. Istri saya tertawa dengan nada mengejek. “Bapak jangan mengambil alih penyakit para pejabat negeri ini. Katanya berhemat, tetapi membiarkan pemborosan. Swalayan dari negeri asing itu kan boros energi. Tempat parkirnya dingin, eskalatornya banyak, ruangan terang benderang, suhu di tempat sayur dan daging nyaris seperti di kutub. Saking nikmatnya, swalayan milik pribumi sudah gulung tikar, bahkan mau diambil swalayan asing itu. Bagaimana bicara hemat energi kalau kita ikut nikmat dengan pemborosan energi?”

Saya diam, tapi karena lama diam, takut dikatakan tidak merespons, maka saya bicara seadanya. “Ini salahnya pemerintah dan perusahaan listrik, minta berhemat dengan mematikan lampu hanya 50 watt. Tetangga kita kemarin juga mengaku mematikan lampu 50 watt, tetapi minggu lalu pasang lampu empat titik. Ya, syukur pemerintah pekan depan akan mengeluarkan inpres tentang penghematan energi ini, jadi ada dasar hukum yang jelas,” kata saya dengan serius. “Itu hasilnya gombal. Sia-sia karena otak kita sudah boros, kita hanya menyuruh orang berhemat tetapi perilaku kita tak pernah hemat,” jawab istri saya.

Mobil berjalan tersendat. Ada aksi unjuk rasa di depan pompa bensin. Mahasiswa membentangkan spanduk: “Turunkan harga BBM, Pendidikan Gratis, Kesehatan Gratis, Tangkap Wakil Rakyat yang Tak Berpihak ke Rakyat”. Istri saya membuka kaca mobil dan memanggil seorang mahasiswa, oh, ternyata keponakannya. “Kamu ngapain ikut demo? Mikir dong. Dengan harga BBM saat ini saja pemerintah pusing menambah subsidi, itu bisa menyedot anggaran pendidikan dan kesehatan. Kamu mikir juga, kalau wakil rakyat memihak rakyat artinya mereka perlu menyerap aspirasi rakyat ke pedesaan, apa mereka harus jalan kaki, kan perjalanan dinas dibatasi dan ada penjatahan bahan bakar.”

Keponakan istri saya seperti kerbau dungu. “Kan cuma ikut-ikutan saja, Tante,” ia akhirnya menjauh. Untung mobil sudah bisa melaju. Saya pun berbicara pelan: “Ibu sebenarnya memihak siapa, sih? Memihak wong cilik, mahasiswa, wakil rakyat, menteri, presiden….” Belum selesai saya bicara, istri saya langsung memotong: “Memihak akal sehat. Menjelang pemilu ini semua orang akalnya tidak sehat, apakah dia presiden, menteri, apalagi politisi. Semua langkah yang mau diambil untuk memperbaiki situasi dibayang-bayangi dampaknya pada pemilu nanti. Pemilu kan setahun lagi, keputusan harus diambil hari ini.”

Terdengar siaran berita di radio. Gus Dur dicalonkan sebagai presiden di Serpong, dan Gus Dur digusur partainya di Ancol. “Bu, komentari Gus Dur, dong….” saya menggoda istri saya, tapi istri saya diam. “Wah, Ibu juga akalnya tidak sehat, mahasiswa sampai presiden dikomentari, untuk Gus Dur sama sekali tak berani. Apa ini termasuk hemat energi, Bu?”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: